Peradi itu Rumah Kita

Gabriel Mahal*

Hari Sabtu kemarin, seorang advokat muda tanya pandangan saya tentang PERADI. Saya tidak tahu kenapa dia tanya soal itu. Mungkin saja dia lagi galau atau miris melihat senior-seniornya yang sadar atau tidak, sengaja atau tidak, terus mewarisi semangat perpepecahan dalam organisasi advokat. Suatu semangat buruk yang mestinya telah dimatikan bersamaan dengan lahirnya UU Advokat yang merupakan hasil perjuangan profesi advokat itu sendiri.

Pertanyaan advokat muda itu saya jawab singkat, “PERADI itu, rumah kita”. Ya, rumah kita! Rumah para advokat se-nusantara. Karena rumah itu dibangun oleh kita semua dan untuk kita semua lewat masing-masing organisasi advokat. Rumah itu dibangun di atas fondasi komitmen kita bersama. Bukan hanya sebatas kepentingan kita. Tetapi, komitmen.

Ada perbedaan antara kepentingan dengan komitmen itu. Ketika kita bangun rumah itu hanya karena kepentingan, maka bangunan itu kita pertahankan sebatas memungkinkan untuk dipertahankan dengan mengacu pada terpenuhinya kepentingan itu. Tetapi ketika kita bangun rumah itu atas dasar komitmen kita bersama, maka kita tidak akan menerima alasan-alasan apapun untuk tidak mempertahankan dan tidak terus membangun rumah kita itu menuju pada hasil yang kita impikan: suatu organisasi yang kuat, berintegritas, berwibawa, dan jadi elemen penegak yang penting di negeri ini.

Pada saat kita dirikan itu PERADI setiap kita, apalagi para advokat yang menandatangani pendirian PERADI itu, telah meletakkan komitmen individunya sebagai komitmen kolektif yang jadi fondasi kokoh rumah kita itu. Mungkin kita punya catatan akan pandangan Vince Lombardi (1913-1970), pelatih football Amerika yang dikenal sebagai simbol “single-minded determination to win”. Lombardi meyakini “individual commitment to a group effort – that is what makes a team work, a company work, a society work, a civilization work.” Realitas itulah yang terjadi pada tahun awal berdirinya PERADI. Sebab setiap kita masih teguh memegang komitmen individu yang kita patrikan sebagai komitment kolektif, fondasi kokoh rumah kita itu.

Mungkin kita masih punya catatan momen monumental pendirian PERADI, rumah kita itu. Kita semua penuh dengan sukacita. Tidak ada yang mempersoalkan fondasi rumah yang saat itu masih dari tanah dan ada lobang-lobangnya. Tidak ada yang ributkan soal dinding yang saat itu masih dari bambu dan ada celah-celahnya. Tidak ada yang protes dengan atapnya yang saat itu masih dari alang-alang dan masih ada bocor-bocornya. Itu semua tidak lebih penting daripada komitmen kita dan impian mewujudkan bangunan rumah PERADI tempat kita semua bernaung, bersatu dalam ikatan profesi yang kita agungkan sebagai “officium nobile” itu.

Kita semua sepakat jadikan PERADI itu sebagai rumah kita, walau beralas tanah, berdinding bambu, beratap alang-alang. Komitmen kita saat itu adalah batu cadas fondasi kokoh yang beri kita semangat dan kegairahan untuk mulai dan terus membangun rumah itu jadi rumah megah, kokoh dan kuat, tempat bernaung anak-anak negeri “officium nobile” itu. Komitmen itu meletakkan kewajiban etika dan moral kepada kita untuk menjaga keutuhan rumah itu dan tidak pernah membongkarnya atau kita lari meninggalkan rumah itu hanya karena ketidak-sukaan kita, kekecewaan kita kepada orang-orang yang kita percayakan mengurus rumah itu. Jika kita bongkar atau lari dari rumah kita itu, hal tersebut sama dengan menyangkal komitmen kita. “If you deny yourself commiment, what can you do with your life?” pertanyaan reflektif Harvey Fierstein, aktor Amerika itu, tentu akan jadi pertanyaan kita saat kita hendak bongkar atau lari dari rumah kita itu.

PERADI itu, rumah kita! Itu telah jadi komitmen kita bersama saat pendirian rumah itu. Jika hari ini kita menyatakan bahwa rumah kita itu harus dibongkar, dibubarkan karena fondasinya rapuh, dindingnya berlobang, atapnya bocor, hal itu sama dengan menyatakan kerapuhan diri kita, lobangnya diri kita, bocornya diri kita. Bagaimana mungkin kita berharap dan percaya dapat membangun rumah baru dengan kerapuhan diri kita sendiri, lobangnya diri kita sendiri, dan bocornya diri kita sendiri? Hanya kepada yang teguh memegang komitmennya kita dapat menaruh harapan dan kepercayaan. Keteguhan memegang dan setia pada komitmen itu merupakan roh dari advokat sebagai profesi yang terhormat dan mulia, tidak hanya dalam relasi dengan sesama rekan profesi, dengan klien, dengan masyarakat, tetapi juga dalam membangun organisasi advokat.

Keteguhan dan konsistensi memegang komitmen untuk tetap menjaga tegak berdirinya, keutuhan, dan pembangunan PERADI sebagai rumah kita itu, menggambarkan juga komitmen profesi kita dalam mendevosikan diri kepada hukum dan keadilan sejati dalam perspektif pandangan Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat ke 39 itu, “ The law is not the private property of lawyers, nor is justice the exclusive province of judged and juries. In the final analysis, true justice is not a matter of courts and law books, but of a commitment in each of us to liberty and mutual respect.”

Kepada rekan advokat muda itu saya katakan, “tinggallah dan bangunlah PERADI, rumah kita itu!*

*Advokat dan Penyair